Profil Royyan, Mushonnif Muda asal Bangkalan yang Menyarahi Kitab Tasawuf Imam Al-Ghazali

Retoria.id – Bangkalan kembali mencatatkan namanya dalam peta tradisi keilmuan Islam. Kali ini bukan melalui ulama sepuh atau tokoh mapan, melainkan lewat seorang santri yang usianya bahkan belum genap 13 tahun.

Namanya Ubaidillah Royyan Adzra’i, mushonnif muda asal Bangkalan yang kini menempuh pendidikan di Pesantren Sidogiri, Pasuruan.

Di usia yang masih sangat belia, Royyan telah memasuki satu fase yang bagi banyak santri hanya bisa dicapai setelah bertahun-tahun pengembaraan ilmiah: menulis kitab.

Bukan sekadar catatan atau ringkasan, melainkan syarah bentuk penulisan yang menuntut pemahaman mendalam terhadap matan dan keberanian intelektual.

Pilihan Royyan untuk menyusun syarah atas Minhaj al-‘Arifīn karya Imam Abu Ḥamid al-Ghazali (w. 505 H) juga bukanlah pilihan yang lazim bagi santri seusianya.

Kitab ini dikenal sebagai teks tasawuf yang padat secara konseptual dan menuntut kematangan cara pandang, bukan hanya kecakapan bahasa.

Minhaj al-‘Arifin memuat 27 bab yang disusun untuk menuntun seorang murid menanamkan nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan sehari-hari hingga mencapai derajat ‘arifin orang-orang yang mengenal Allah.

Karena itu, al-Ghazali menamainya minhaj, sebuah jalan atau metode, bukan sekadar kumpulan nasihat spiritual.

Yang menarik, kitab ini tidak menyajikan tasawuf dalam bentuk praktik ekstrem atau pembahasan ritual semata.

Banyak babnya justru menggunakan tema-tema yang tampak sederhana dan tidak langsung berlabel tasawuf. Namun melalui cara inilah al-Ghazali menyisipkan ajaran-ajaran batin secara halus dan membumi.

Baca Juga: Pidato emosional Wisudawati Indonesia di Al-Azhar Tuai Pujian Ulama Besar, Syaikh Ali Gomaa dan Syaikh Ahmad Al-Tayyib

Salah satu contoh dapat ditemukan pada pembahasan tentang qiyam (bangun tidur). Dalam bab ini, bangun tidur tidak berhenti pada peralihan fisik dari tidur ke terjaga, melainkan dimaknai sebagai ajakan membangunkan hati dari kehampaan dan membebaskan nafsu dari kebodohan.

Aktivitas harian yang tampak sepele dijadikan pintu masuk pembentukan kesadaran batin fondasi utama dalam tasawuf.

Pilihan Royyan untuk menyarahi kitab ini menunjukkan arah berpikirnya. Ia tidak memulai dari tasawuf yang berat dan simbolik, melainkan dari tasawuf yang hidup dalam laku sehari-hari.

Menyarahi Minhaj al-‘Arifīn berarti berhadapan langsung dengan logika al-Ghazali yang reflektif, subtil, dan penuh metafora. Di titik inilah tampak bahwa Royyan tidak sekadar membaca teks, tetapi mulai berdialog dengan tradisi.

Karya yang ia susun, Tadzkirah al-Muqwin, dapat dibaca sebagai usaha awal seorang santri muda untuk memahami dan menjelaskan kembali jalan tasawuf al-Ghazali, tanpa pretensi melampaui, apalagi menyaingi.

Mushonnif Muda dari Bangkalan: Biografi Singkat Royyan

Ubaidillah Royyan Adzra’i lahir dan tumbuh di Bangkalan, Madura, dalam lingkungan keluarga pesantren yang dekat dengan tradisi keilmuan Islam klasik.

Sejak dini, ia tumbuh dalam atmosfer yang akrab dengan kitab, disiplin belajar, dan penghormatan terhadap ilmu.

Saat ini Royyan menempuh pendidikan di Pesantren Sidogiri, salah satu pesantren tertua di Indonesia yang dikenal konsisten merawat tradisi keilmuan berbasis kitab kuning.

Dalam waktu kurang dari dua tahun mondok, Royyan menunjukkan kemajuan akademik yang menonjol hingga diterima dalam program takhassus, jalur pendalaman keilmuan yang umumnya ditempuh santri tingkat lanjut.

Kepercayaan pesantren terhadap Royyan kian tampak ketika ia ditunjuk mengikuti ajang penulisan kitab dalam waktu yang relatif singkat, dengan peserta yang mayoritas berasal dari tingkat Aliyah atau kalangan asatidz.

Keikutsertaannya dalam forum semacam ini menjadi penanda penting atas kapasitas intelektual dan kedisiplinannya.

Dari proses itulah lahir Tadzkirah al-Muqwin, syarah atas Minhāj al-‘Arifīn. Menyarahi berarti membaca dengan cermat, memahami struktur berpikir pengarang, lalu menjelaskannya kembali dengan bahasa dan logika sendiri.

Meski masih sangat muda, Royyan telah menempatkan dirinya dalam mata rantai penting tradisi pesantren: tashnif.

Tradisi ini tidak hanya menuntut penguasaan ilmu, tetapi juga kerendahan hati intelektual karena syarah pada dasarnya adalah upaya mendekatkan pembaca pada teks, bukan menonjolkan diri di atasnya.

Kisah Royyan bukan sekadar cerita tentang santri cerdas, melainkan tentang masa depan dan harapan gemilang.

Dari Bangkalan, dari Madura, dan dari usia yang nyaris masih kanak-kanak, dunia kitab di masa depan menemukan penerusnya. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/pendidikan/2572253546/profil-royyan-mushonnif-muda-asal-bangkalan-yang-menyarahi-kitab-tasawuf-imam-al-ghazali

Rekomendasi