Syaikh Aunul Abied Orang Madura Pertama Raih Gelar Doktor Al-Azhar dengan Disertasi 847 Halaman

Retoria.id – Lahirnya seorang doktor asal Madura di Universitas Al-Azhar menandai momen bersejarah bagi dunia akademik Nusantara.

Senin, 26 Januari 2026, Auditorium Imam Akbar Syaikh Abdul Halim Mahmoud, Fakultas Ushuluddin, menjadi saksi ketika Syaikh Kiai Haji Muhammad Aunul Abied Shah menuntaskan sidang promosi terbuka dan resmi memperoleh gelar doktor, di hadapan akademisi dan tamu undangan internasional.

Disertasi yang dipertahankan berjudul “Al-Ittijah an-Naqdi fi al-Khitab al-Kalaami ‘inda Najm al-Dīn al-Kaatibi” mengeksplorasi metodologi kritik dalam tradisi Ilmu Kalam klasik.

Dengan ketebalan 847 halaman yang terbagi dalam dua jilid, karya ini meraih yudisium tertinggi Universitas Al-Azhar, Martabat Syaraf al-Ula ma‘a Tawsiyah bi Tab’i al-Risalah wa Tadaawulihaa bayna al-Jaami’aat (Summa Cum Laude dengan rekomendasi penerbitan dan distribusi antaruniversitas), prestasi yang jarang tercapai.

Baca Juga: Profil Royyan, Mushonnif Muda asal Bangkalan yang Menyarahi Kitab Tasawuf Imam Al-Ghazali

Sidang promosi dipandu oleh Prof. Dr. Hassan Muharram al-Huwainy sebagai promotor utama, ditemani jajaran penguji senior Al-Azhar yang memberikan pengakuan luas terhadap kualitas disertasi ini.

Promovendus menegaskan, “Disertasi ini bertujuan merekonstruksi Ilmu Kalam melalui kritik internal tradisi klasik Ahlussunnah, dengan menjadikan pemikiran Najmuddin al-Katibi sebagai studi kasus, lalu mengaitkannya dengan filsafat modern dan konteks pemikiran Islam Indonesia.”

Para penguji memuji ketajaman analisis, kemandirian intelektual, dan keluasan wawasan promovendus, sambil menyertakan catatan akademik untuk penyempurnaan.

Karya ini dianggap pantas menjadi referensi penting dalam studi Ilmu Kalam kontemporer, menjembatani pemikiran klasik dengan tantangan modern.

Selain kiprahnya sebagai akademisi, Syaikh KH Muhammad Aunul Abied Shah aktif sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Torjun Sampang, guru Tarekat Naqsyabandiyah, serta pengajar Ilmu Kalam dan Filsafat Islam.

Pencapaian ini menegaskan kontribusi ulama Nusantara, khususnya Madura, dalam khazanah keilmuan Islam global, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda yang ingin menorehkan prestasi di panggung internasional.

Dengan pencapaian ini, Syaikh Aunul Abied bukan hanya mencatat prestasi pribadi, tetapi juga mengukuhkan peran pesantren dan ulama Nusantara.

Khususnya dalam percaturan intelektual Islam internasional, dan menegaskan bahwa keilmuan lokal mampu berdialog dengan tradisi global. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/pendidikan/2572253744/syaikh-aunul-abied-orang-madura-pertama-raih-gelar-doktor-al-azhar-dengan-disertasi-847-halaman

Rekomendasi