Retoria.id – Di atas meja Magnolia Coffee and Space, sebuah ompreng diletakkan di hadapan pelanggan. Di dalamnya ada nasi, lauk, buah, dan segelas susu. Di struk pembayaran, tercantum harga Rp25.000. Dari jumlah itu, Rp5.000 tidak berhenti di kas kafe.
Menu tersebut diberi nama MBG. Bukan singkatan program pemerintah, melainkan Menu Berbagi untuk Guru.
Khoirul Mahmud Al Yahfi, pengelola Magnolia Coffee and Space di Kabupaten Lumajang, menyebut ide itu muncul dari kebiasaan yang ia lihat sehari-hari: guru honorer tetap datang ke sekolah, sementara penghasilan mereka tidak selalu cukup untuk menutup kebutuhan bulanan.
“Konsepnya kami terinspirasi dari program MBG pemerintah. Bedanya, versi kami untuk berbagi kepada guru honorer,” kata Yahfi, Minggu (8/2/2026).
Setiap porsi MBG yang terjual menyisihkan Rp5.000. Dana itu dikumpulkan dan disalurkan setiap pekan. Pengelola juga mengunggah laporan penyaluran di media sosial nama menu, jumlah porsi terjual, dan total dana yang dibagikan.
Penyajiannya dibuat konsisten. Ompreng dipakai sebagai wadah. Buah dan susu selalu disertakan. Menu utama berganti setiap hari agar pelanggan tidak menemui isi yang sama dua kali berturut-turut.
Pada hari Senin, ompreng diisi nasi, ayam goreng rempah, tahu, tempe, timun, selada, semangka, dan susu. Selasa berganti ayam pop dengan saus kare. Rabu katsu saus teriyaki dan scramble egg. Kamis roti, sosis, salad, dan nanas.
Baca Juga: Kisah Fildzah, Guru PPPK di Sumedang: Honor Rp50 Ribu, Terpotong BPJS Tersisa Rp15 Ribu
Jumat wedges dengan telur rebus dan sayur. Sabtu ayam pop kembali muncul dengan menu berbeda. Minggu ditutup chicken wings, french fries, dan anggur. Harga tetap sama. Nominal yang disisihkan juga tidak berubah.
“Menunya ganti setiap hari, harganya sama, keuntungan yang dibagi untuk guru juga sama tiap porsinya,” ujar Yahfi.
Di dapur, chef menyiapkan pesanan seperti biasa. Tidak ada perlakuan khusus pada ompreng MBG selain catatan kecil di sistem kasir.
Retno, salah satu pelanggan, mengaku awalnya tertarik karena nama menu yang terasa familiar.
“Saya tanya ke kasir, ternyata ada sisi berbagi untuk guru honorer,” katanya. Ia menyebut rasa dan penyajiannya tidak berbeda dengan menu lain di kafe itu.
Di meja lain, Maulana menyebut hal serupa. Baginya, makan siang itu tetap soal rasa, sementara informasi tentang dana yang disisihkan datang belakangan.
“Rasanya enak, terus ada untuk guru honorer juga,” ucapnya singkat.
Di Magnolia Coffee and Space, MBG tidak dipromosikan lewat poster besar. Ia muncul di daftar menu, di ompreng yang dibuka pelanggan, dan di laporan mingguan yang diunggah satu per satu, mengikuti jumlah porsi yang terjual hari itu. (*)