Indonesia Nyaman di 5 Persen, Dany MIND ID Bicara Target 8 Persen dari ITB

Retoria.id — Di Aula Barat ITB, Bandung, Rabu (11/2/2026), grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali berhenti di satu angka yang familiar 5 persen.

Angka itu yang selama lebih dari satu dekade berulang disebut Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, di hadapan mahasiswa dan pejabat negara.

Forum Studium Generale bertajuk Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Naik Kelas itu turut dihadiri Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar dan Rektor ITB Tatacipta Dirgantara.

Di ruang akademik tersebut, Dany menyebut satu target yang terasa kontras dengan kebiasaan lama yaitu 8 persen.

“Selama lebih dari satu dekade, ekonomi Indonesia seolah nyaman di angka 5 persen,” ujar Dany. “Padahal, dengan modal yang kita miliki, Indonesia seharusnya mampu melompat ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi.”

Penjelasan itu bukan datang tanpa konteks. Struktur ekonomi yang bertumpu pada komoditas mentah, menurutnya, membuat nilai tambah Indonesia berhenti sebelum sampai ke hilir.

Konsekuensinya terlihat pada kontribusi pajak dan royalti yang hanya menyumbang sekitar 9–10 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)—angka yang terpaut jauh dari negara maju yang berada di kisaran 30–40 persen.

Baca Juga: ‘Dikira Murah, Padahal Mahal’: Dirut BPJS Bicara Soal Biaya Kesehatan di Rapat DPR

Di titik itu, Dany menyebut apa yang selama ini kerap lewat sebagai potensi: cadangan mineral strategis. Timah, nikel, emas, bauksit, hingga batubara disebutnya menempatkan Indonesia di jajaran teratas dunia, dengan usia cadangan puluhan tahun.

Namun daftar itu, kata Dany, belum sepenuhnya berubah menjadi nilai tambah di dalam negeri.
“Angka penerimaan negara yang rendah menunjukkan bahwa kita masih menjual bahan mentah. Nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar negeri,” katanya.

Selain cadangan utama, ia menyinggung sumber daya sekunder limbah industri tambang dan material turunan yang selama ini terabaikan.

Menurut Dany, sumber-sumber ini bukan hanya memperpanjang umur ekonomi sumber daya alam, tetapi juga membuka posisi baru Indonesia dalam rantai nilai global.

Potensi serupa, lanjutnya, tidak berhenti di tambang. Perikanan dan sektor lain disebut menyimpan peluang yang selama ini belum digarap secara serius.

Kerangka pikir itu ia rangkum dalam bukunya “Indonesia Naik Kelas” yang diluncurkan akhir 2025. Di sana, ia menempatkan riset sebagai prasyarat lompatan.

Anggaran riset Indonesia yang masih berada di kisaran 0,3 persen dari PDB, menurutnya, menjelaskan mengapa Indonesia lebih sering menjadi pengadopsi teknologi ketimbang penciptanya.

Dany merumuskan arah strateginya dalam konsep DAI: Distinctive, Adaptive, Inclusive.
Distinctive berbicara tentang industrialisasi berbasis keunggulan nasional dari bioenergi hingga ekonomi halal.

Adaptive menuntut respons atas dinamika global, mulai dari CBAM, geopolitik multipolar, integrasi AI, hingga transisi energi hijau.

Sementara Inclusive menempatkan UMKM, startup, BUMN, dan perguruan tinggi dalam satu rantai nilai yang saling terhubung.

Di aula kampus teknik tertua itu, angka-angka, cadangan, dan istilah kebijakan berkelindan. Yang tersisa bagi hadirin adalah satu pertanyaan yang menggantung apakah Indonesia akan terus berhenti di 5 persen, atau benar-benar mengambil risiko untuk melompat. (*)

Sumber: https://www.retoria.id/nasional/2572295984/indonesia-nyaman-di-5-persen-dany-mind-id-bicara-target-8-persen-dari-itb

Rekomendasi