Mengintip Fenomena Passion Economy, Cara Konten Kreator Salurkan Hobi hingga Menjadi Ladang Cuan

Retoria.id – Pada era digital masa kini, semakin banyak anak muda Indonesia yang menjadikan hobi sebagai ladang cuan alias sumber keuntungan. 

Fenomena ini dikenal sebagai passion economy, tren global di mana gairah hobi seseorang ternyata bisa diolah menjadi karya yang menarik perhatian.

Lagi sebagian orang, passion economy mungkin terdengar asing. Namun contoh nyatanya bisa dilihat di sekitar kita, yakni tentang kreator konten yang awalnya hanya berbagi kesukaan sederhana, kemudian berkembang menjadi konten kreator yang terkenal.

Salah satunya Nessie Judge. Ia dikenal luas lewat konten bertema misteri di YouTube. Dengan gaya bercerita khas, Nessie mampu mengubah minatnya pada sejarah dan kisah unik menjadi tontonan yang ditunggu-tunggu jutaan penonton. 

Hal ini menggambarkan bagaimana passion economy bekerja, yaitu sebuah hobi yang dijalani dengan konsisten bisa menjadi identitas seseorang sekaligus ladang cuan. 

“Modal utama bukan uang, melainkan keberanian mengekspresikan diri dan membangun koneksi dengan audiens,” demikian keterangan Mighty Networks yang dikutip pada Sabtu, 23 Agustus 2025.

Baca Juga: BI Targetkan Ekonomi RI Tumbuh 5,1 Persen di 2025, Ekspor-Investasi Jadi Mesin Utama

Fenomena lain juga tampak pada sosok kreator konten Indonesia lainnya, seperti Windah Basudara, streamer gaming yang akrab dengan komunitas “bocil kematian”. 

Daya tarik Windah bukan semata keterampilan bermain game, melainkan interaksi hangat dan humor khas yang membuat pengikutnya merasa dekat.

Kreator lain yang tak kalah pamor, Fadil Jaidi bersama ayahnya, Pak Muh, yang menunjukkan sisi berbeda passion economy. 

Konten keluarga yang mereka tampilkan spontan dan apa adanya, namun justru itu yang membuat penonton merasa terhubung dengan mereka. 

Lantas, bagaimana awal kemunculan tren passion economy ini? Begini awalnya:

Muncul saat Gen Z Terdampak Covid-19

Usut punya usut, Generasi Z disebut sebagai motor utama dari tren ini. Terlahir di era teknologi, mereka tumbuh bersama media sosial. 

Maka tak heran jika banyak anak muda kini lebih memilih menyalurkan kreativitas lewat konten digital daripada terikat pada pekerjaan kantoran.

Dari sisi yang lain, pandemi Covid-19 semakin mempercepat tren ini. Saat banyak orang bekerja dari rumah, muncul kesadaran bahwa mencari nafkah tidak selalu harus di kantor. 

Hal itu membuat passion economy dianggap sebagai fenomena kerja yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Perkembangan media sosial dan platform digital pun kini dinilai telah mempermudah siapa pun untuk memonetisasi keterampilan. 

Tidak perlu menjadi selebritas besar, cukup dengan menghadirkan sesuatu yang unik dan konsisten, peluang untuk mendapat penghasilan terbuka lebar. Tertarik mencoba?

Rekomendasi