Retoria.id – Perdebatan soal gim Roblox kembali merebak setelah wacana pemerintah hendak melarangnya karena kekhawatiran terhadap konten kekerasan dan tidak pantas untuk anak-anak. Namun, tidak sedikit juga pihak yang menilai Roblox justru memiliki potensi edukatif tinggi, asal ada pengelolaan dan pengawasan yang tepat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyatakan larangan terhadap Roblox sebagai bentuk perlindungan anak-anak karena adanya konten kekerasan dan kata-kata kasar di dalamnya.
Baca Juga: Diperiksa Polisi Gara-Gara Podcast Ijazah Jokowi, Abraham Samad: Ini Pembungkaman
Dukungan terhadap pendekatan tersebut datang dari Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, yang menyatakan bahwa konten dalam gim seperti ini bisa memicu perilaku negatif dan bullying pada anak-anak .
Berbagai pihak menilai pelarangan total tidak memberi solusi jangka panjang.
Asosiasi Game Indonesia (AGI) mendorong dialog, edukasi, dan kolaborasi dengan komunitas dan industri gim daripada pelarangan langsung .
Asosiasi Komunitas Roblox Indonesia (AKRI) juga mengingatkan bahwa gim ini memiliki pengaturan umur dan kontrol konten, sehingga pendekatan yang lebih tepat adalah regulasi dan edukasi digital, bukan pemblokiran .
Ketua DPR RI, Puan Maharani, menilai larangan perlu dibarengi literasi digital komprehensif yang mencakup anak, orang tua, dan pendidik. Dengan pendekatan menyeluruh, anak-anak tidak hanya dicegah, tetapi dibekali kemampuan kritis dan aman di dunia digital .
Akademisi Psikologi, Dr. Nenny Ika Putri Simarmata, menyebut pelarangan total justru membuat anak beralih ke platform yang lebih sulit diawasi. Ia mendorong pendekatan literasi digital dan kontrol orangtua sebagai solusi lebih efektif .
Baca Juga: Petaka MBG di Sragen: Guru Pun Ikut Keracunan Setelah Santap Porsi Siswa yang Absen
Penelitian dan eksperimen pendidikan menunjukkan, Roblox bukan sekadar gim—ia juga bisa menjadi media pembelajaran interaktif.
Studi dari Universitas Sumatera Utara dan Universitas Negeri Padang menemukan bahwa Roblox efektif untuk meningkatkan literasi Bahasa Inggris siswa, lewat penggunaan multimodal (teks, visual, suara) yang menarik dan memotivasi siswa .
Baca Juga: 4 Kebiasaan Liburan Gen Z yang Sedang Hits di 2025
Di tingkat pendidikan menengah kejuruan (SMK), studi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menunjukkan bahwa penggunaan Roblox-berbasis problem-based learning mampu meningkatkan kemampuan berpikir logis siswa—rata-rata nilai kena dari 64,4 menjadi 80,2, dengan respons positif dari mayoritas siswa .
Secara global, komunitas pengembang remaja di Roblox juga menunjukkan bagaimana mereka belajar kolaborasi, teknik, dan pemecahan masalah dalam lingkungan virtual yang mendukung pertumbuhan kreativitas teknis
Beragam sudut pandang pengguna muncul di media sosial, seperti di Reddit, menggambarkan kompleksitas wacana.
Baca Juga: Oposisi India Bongkar Dugaan Kecurangan Pemilu 2024: Ratusan Ribu Nama Pemilih Palsu Terdaftar
Seorang pengguna menyoroti kekhawatiran orang tua yang terkadang terlalu percaya pada keamanan Roblox, sedangkan banyak konten belum tentu pantas untuk anak-anak .
Sementara itu, komunitas teknologi kembali menyerukan literasi dan pengawasan, bukan pelarangan, agar anak-anak dapat belajar aman dalam ruang digital .
Roblox memiliki potensi signifikan untuk edukasi, terutama dalam pengembangan literasi digital, berpikir kritis, dan kreativitas. Namun, potensi ini hanya bisa dimanfaatkan secara maksimal jika didampingi oleh pendekatan yang tepat—yakni regulasi, literasi digital, dan keterlibatan aktif orang tua dan pendidik. Pelarangan total tidak hanya mengabaikan nilai edukatif, tetapi juga menutup jalan inovasi yang bisa membawa manfaat jangka panjang bagi generasi digital.