Saat Indonesia Pernah Lebih Kaya dari China: Sebuah Kilas Balik Ekonomi

Retoria.id – Tidak banyak yang tahu bahwa pada awal 1980-an, Indonesia pernah melangkah di depan China dalam hal kekayaan per kapita. Tahun 1983 menjadi salah satu penanda—pendapatan per kapita Indonesia mencapai 508 dolar AS, hampir dua kali lipat China yang hanya 255 dolar AS.

Bagaimana bisa Indonesia unggul pada masa itu, dan mengapa kini justru tertinggal jauh?

1980–1990: Kejayaan Awal

Pada dekade 1980-an, ekonomi Indonesia diuntungkan oleh booming harga minyak dunia. Sebagai anggota OPEC, Indonesia meraup devisa besar dari ekspor minyak dan gas. Program pembangunan Orde Baru mengandalkan pendapatan ini untuk membiayai proyek infrastruktur, swasembada pangan, dan industrialisasi awal.

 Baca Juga: Perusahaan China Pindah Investasi ke Indonesia untuk Hindari Tarif AS Tinggi

Di saat yang sama, China baru saja memulai reformasi ekonomi di bawah Deng Xiaoping (1978). Negeri Tirai Bambu masih berjuang keluar dari bayang-bayang Revolusi Kebudayaan, dan pendapatan per kapita mereka tertinggal jauh.

1990–1997: Stabil tapi Rapuh

Memasuki awal 1990-an, perekonomian Indonesia tetap tumbuh, meski sudah mulai bergeser dari minyak ke industri ringan dan ekspor nonmigas. Sementara itu, China mulai membuka diri secara masif terhadap investasi asing, membangun kawasan ekonomi khusus, dan mengembangkan sektor manufaktur berorientasi ekspor.

Indonesia masih memimpin dari sisi pendapatan per kapita, tetapi fondasi ekonominya lebih rapuh terlalu bergantung pada pinjaman luar negeri dan modal jangka pendek.

 Baca Juga: AS-China Sepakat Perpanjang Gencatan Perang Dagang hingga November 2025

1997–1999: Krisis yang Mengubah Segalanya

Krisis moneter Asia 1997 menjadi titik balik. Rupiah terjun bebas, perbankan kolaps, dan jutaan orang jatuh miskin dalam waktu singkat. Indonesia kehilangan hampir seluruh keuntungan ekonomi yang dibangun selama dua dekade sebelumnya.

China, yang sistem keuangannya lebih tertutup, relatif aman dari krisis. Pertumbuhan mereka terus berjalan, dan investasi asing tetap mengalir.

2000–2023: Laju China Tak Terbendung

Awal 2000-an, China resmi bergabung dengan WTO (2001) dan menjadi “pabrik dunia”. Infrastruktur modern dibangun besar-besaran, teknologi mulai berkembang, dan ekspor meroket. Pertumbuhan ekonomi dua digit membawa pendapatan per kapita China menyalip Indonesia sekitar 2003—dan sejak itu tak pernah menoleh ke belakang.

 Baca Juga: Larangan Dicabut, Nvidia Kembali ke China: Trump Dinilai Justru Bantu Tiongkok Menang di Era AI

Pada 2023, kesenjangan terlihat jelas: pendapatan per kapita China mencapai 12.614 dolar AS, sementara Indonesia tertahan di 4.876 dolar AS.

Pelajaran dari Sejarah

Kisah ini mengingatkan bahwa keunggulan ekonomi tidak bersifat permanen. Indonesia pernah memimpin, tetapi krisis, ketergantungan pada komoditas, dan lambatnya transformasi industri membuat momentum itu hilang. Sementara itu, China memanfaatkan reformasi, investasi, dan industrialisasi untuk mengubah nasibnya secara radikal.

Sejarah ini adalah cermin—bahwa untuk bangkit, Indonesia butuh lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberanian untuk bertransformasi dan belajar dari masa lalu.

Sumber: https://www.retoria.id/sejarah/2571489917/saat-indonesia-pernah-lebih-kaya-dari-china-sebuah-kilas-balik-ekonomi

Rekomendasi