Makna Gerhana Bulan Blood Moon Perspektif Sains dan Tafsir Agama-agama Dari Islam, Yahudi hingga Zoroastrianisme

Retoria.id — Fenomena Blood Moon atau bulan darah selalu menarik perhatian banyak orang. Dari sisi sains, ia hanyalah sebuah gerhana bulan total, namun dalam berbagai tradisi agama, bulan darah sarat dengan makna simbolis dan bahkan dianggap sebagai tanda-tanda besar.

Apa itu Bulan Darah?

Bulan darah adalah istilah populer untuk gerhana bulan total, ketika bumi berada tepat di antara matahari dan bulan. Cahaya matahari yang melewati atmosfer bumi mengalami proses Rayleigh Scattering sehingga hanya spektrum merah yang mencapai permukaan bulan.

Akibatnya, bulan tampak berwarna merah gelap. Fenomena ini berlangsung beberapa jam dan dapat disaksikan di wilayah yang bulan sedang berada di atas horizon.

Baca Juga: Jadwal Gerhana Bulan Total 7 September 2025: Catat Waktu Puncak Blood Moon Malam Ini

Perspektif Agama-agama tentang Bulan Darah

1. Kekristenan

Dalam Alkitab, bulan darah sering disebut sebagai tanda kenabian. Kitab Wahyu menyebutkan gempa bumi, matahari yang menghitam, dan bulan menjadi darah sebagai bagian dari rangkaian peristiwa akhir zaman.

Injil Perjanjian Baru pun menyinggung bulan darah sebagai tanda ilahi agar manusia bersiap menghadapi hari besar Tuhan.

2. Agama Islam

Dalam Islam, gerhana bulan bukan pertanda buruk, melainkan ayatullah (tanda kebesaran Allah). Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Qiyamah ayat 7–9, menyebutkan terjadinya gelapnya bulan sebagai salah satu tanda hari kiamat.

Hadis-hadis Nabi menekankan bahwa gerhana adalah peringatan agar manusia kembali kepada Allah. Karenanya, dalam tradisi Islam disyariatkan shalat khusuf (shalat gerhana) yang terdiri dari dua rakaat dengan dia kali rukuk di setiap rakaat.

3. Yudaisme

Dalam tradisi Yahudi, bulan darah memiliki tafsir beragam. Kitab Yoel menyebutkan bahwa matahari akan menjadi gelap dan bulan berubah menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan.

Beberapa rabbi menafsirkan bulan darah sebagai tanda peringatan bagi bangsa Yahudi, sementara sebagian lain melihatnya sebagai pertanda kemenangan.

Menariknya, sejarah mencatat kemunculan tetrad bulan darah bertepatan dengan peristiwa penting Yahudi, seperti berdirinya negara Israel (1949–1950) dan Perang Enam Hari (1967–1968).

4. Zoroastrianisme

Dalam kepercayaan Persia kuno dan ajaran Zoroaster, gerhana bulan ditafsirkan sebagai serangan kekuatan jahat terhadap ciptaan suci Ahura Mazda. Bagi mereka, bulan darah melambangkan pertarungan kosmik antara kebaikan dan kejahatan, bukan sekadar fenomena astronomi.

Baca Juga: Fakta Ilmiah dan Mitos Kosmik di Balik Gerhana Bulan Total Terindah dan Terpanjang Abad Ini

Bulan Darah 2025

Fenomena bulan darah akan terjadi pada 7 September 2025 (15 Rabi’ul Awal 1447 H). Gerhana ini berlangsung lebih dari tiga jam dan dapat disaksikan di berbagai wilayah dunia, termasuk sebagian besar kawasan Asia.

Meski sains menjelaskan bulan darah sebagai fenomena alamiah, tradisi agama melihatnya lebih dari sekadar gerhana. Ia adalah cermin betapa manusia selalu mencari makna di balik setiap peristiwa kosmik. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/sains/2571552928/makna-gerhana-bulan-blood-moon-perspektif-sains-dan-tafsir-agama-agama-dari-islam-yahudi-hingga-zoroastrianisme

Rekomendasi