Retoria.id – Malam ini, Minggu 7 September 2025, langit Indonesia akan dihiasi fenomena langka Gerhana Bulan Total (GBT) atau yang lebih populer disebut Blood Moon. Jangan cuma puas lihat dari story orang lain, catat jam-jam pentingnya biar kamu bisa jadi saksi langsung.
Fenomena Gerhana Bulan Total dijuluki karena Bulan tampak merah gelap. Cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi dibelokkan: cahaya biru tersebar, sementara cahaya merah menembus dan memantul ke permukaan Bulan.
Hasilnya, langit seolah menyalakan lampu panggung kosmik hanya untuk kita.
Gerhana Bulan Total bukan tontonan harian. Dalam setahun biasanya hanya terjadi 1–2 kali, dan tidak selalu bisa dilihat dari Indonesia. Itu sebabnya momen malam ini dianggap sangat langka.
Kalau terlewat, kita harus menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk menyaksikan Blood Moon lagi.
Baca Juga: Fakta Ilmiah dan Mitos Kosmik di Balik Gerhana Bulan Total Terindah dan Terpanjang Abad Ini
Buat yang tinggal di Jakarta, Surabaya, Medan, atau kota besar lainnya, jangan minder dulu. Meski polusi cahaya bikin langit kurang jernih, Blood Moon tetap bisa terlihat. Tipsnya cari lokasi terbuka rooftop, lapangan, atau gang kecil yang tidak banyak terkena lampu jalan.
Jadwal Lengkap Gerhana Bulan
Fenomena ini berlangsung lebih dari lima jam. Berikut fase-fasenya:
22:26 WIB – Gerhana penumbra mulai
23:26 WIB – Gerhana sebagian mulai
00:30 WIB – Gerhana total mulai
01:11 WIB – Puncak gerhana (Bulan merah sempurna)
01:53 WIB – Gerhana total berakhir
02:56 WIB– Gerhana sebagian berakhir
03:56 WIB – Gerhana penumbra berakhir
Totalitas (saat Bulan merah penuh) akan berlangsung sekitar 1 jam 22 menit
Fenomena ini bisa dinikmati dengan mata telanjang, tanpa teleskop. Tapi kalau mau lebih dramatis, gunakan kamera dengan tripod atau teleskop di tempat terbuka yang jauh dari polusi cahaya. Kalau mendung, jangan kecewa—BMKG juga menyiarkan live streaming gerhana di situs resmi mereka.
Blood Moon, Drama Kosmik di Atas Kepala
Banyak orang menyebut gerhana bulan sebagai drama langit. Bulan yang biasanya putih pucat berubah merah, menghadirkan suasana magis. Dalam banyak budaya, gerhana bulan dijadikan momen refleksi dan perenungan.
Apa pun tafsirnya, satu hal pasti: malam ini langit Indonesia jadi panggung kosmik yang sayang untuk dilewatkan (*)