Retoria.id – Dalam perbincangan seputar generasi, perhatian publik kerap terpusat pada Milenial dan Gen Z yang dianggap sebagai wajah masa depan. Namun, ada satu kelompok yang sering terlupakan, padahal perannya tidak kecil: Generasi X.
Lahir pada kisaran 1965–1980, Generasi X sering mendapat label sebagai “angkatan apes”. Julukan ini muncul lantaran mereka tumbuh di era penuh guncangan mulai dari transisi politik, krisis ekonomi, hingga revolusi teknologi.
Sebagai anak-anak di era Orde Baru, Gen X hidup dalam situasi serba tertib dan terbatas. Pilihan hiburan sederhana, akses informasi terbatas, dan kesempatan mobilitas sosial tak semudah sekarang.
Baca Juga: Piramida Maslow Teori Aktualisasi Diri
Saat memasuki usia dewasa, mereka justru berhadapan dengan krisis moneter 1998 yang memorak-porandakan perekonomian nasional. Banyak yang kehilangan pekerjaan, usaha gulung tikar, dan tabungan tergerus inflasi. Tidak sedikit dari mereka yang terpaksa memulai dari nol pada usia yang seharusnya sedang merintis karier.
Generasi X juga menjadi kelompok yang paling nyata merasakan perubahan dari era analog ke digital. Mereka besar dengan mesin ketik, surat pos, dan telepon rumah, namun kemudian harus beradaptasi dengan komputer, internet, hingga smartphone.
Perubahan drastis ini membuat sebagian merasa tertinggal. Namun, tidak sedikit pula yang mampu menjadikan pengalaman analog sebagai modal adaptasi. Inilah alasan banyak pemimpin bisnis, pejabat publik, dan akademisi saat ini berasal dari Gen X yang terlatih menghadapi transisi.
Baca Juga: 4 Kebiasaan Liburan Gen Z yang Sedang Hits di 2025
Kini, di usia 40–60 tahun, Generasi X memikul beban ganda. Mereka masih menanggung biaya pendidikan anak yang umumnya berasal dari generasi Milenial dan Gen Z, sekaligus mulai menghadapi tanggung jawab merawat orang tua yang menua.