Autobiografi al Munqidz min al Dhalal: Rekaman Perjalanan dan Pergulatan Intelektual Al Ghazali

Retoria.id – Jika hendak menempatkan Al-Ghazali dalam sejarah filsafat Islam, kita harus membuat beberapa catatan awal. Titik tolak utamanya adalah bahwa al-Ghazali tidak menganggap atau ingin dianggap dirinya sebagai filsuf.

Lucunya, saat para pemikir Kristen Abad Pertengahan membaca karyanya, Maqashidal-Falasifah, mereka melihatnya sebagai karya filsafat dan tentu saja penulisnya adalah filsuf.

Begitulah cerita Massimo Campanini ketika hendak membincang sosok Imam Al-Ghazali. Fakta ini juga bisa diperkuat dengan pernyataan salah seorang murid Al-ghazali sendiri, Abu Bakribnal-Arabibial-Faqih (w. 543 H), bahwa “Guru kami, Imam Abu Hamid, adalah seorang yang mampu menelan filsafat, namun tak sanggup memuntahkannya.”

Kenyataan ini menunjukkan bahwa walaupun beliau seorang yuris muslim (faqih), teolog, bahkan sufi yang menyerang keras filsafat dan berusaha menunjukkan kontradiksi-kontradiksinya adalah keliru jika diasumsikan bahwa ajaran tasawuf dan teologinya dianggap sekedar doktrin praktis atau etika religi semata.

Baca Juga: Membaca Madilog Tan Malaka: Perbandingan Logika Mistika dan Sapienza Poetica

Mengingat keduanya memiliki kedalaman teoritis dan meta-etika yang begitu mengagumkan bagi siapapun yang mencermatinya. Salah satu karya yang sangat otoritatif untuk dijadikan rujukan dalam mencermati sosok Imam Al-Ghazali adalah Al-Munqid min Ad dhalal.

Sebuah kitab atau buku autobiografi Intelektual Imam Al-Ghazali. Melalui buku ini kita akan segera menemukan sosok sufi-filosofis yang sedang menceritakan epistemologi filsafat dan perjalanan yang telah ditempuh untuk membentuk dirinya yang sama sekali baru.

Buku ini sudah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia dengan judul yang beragam.

Setiap pembaca, pasca menghatamkan buku ini akan memiliki pengalaman dan refleksi yang berbeda tentang pemikiran Al Ghazali, utamanya kaitannya pemikirannya sendiri.

Bisa jadi keintimannya dengan kitab ini membuatnya menjadi pendiam dan memilih lorong-lorong sunyi mempraktikkan sebagaimana Al Ghazali “hijrah” di otobiografi ini.

Juga bisa jadi “semakin rewel” secara berpikir dengan menemukan berbagai persoalan hidup yang mungkin belum sepenuhnya terkover di buku pendek ini. Keadaan kedua ini positif untuk mengantarkannya ke pembacaan buku-buku Al Ghazali selanjutnya. Dan mestinya ini yang dilakukan oleh pembelajar.

Dan bagi penulis sendiri, poin paling mendasar dari buku ini bagi kalangan muda yang masih haus akan kebenaran, adalah pencarian pengetahuan yang tak pernah berakhir yang ditunjukkan Al Ghazali.

Menuju yang ilahi, bukanlah jalan pintas. Apalagi kemalasan-kemalasan dalam belajar, sama sekali ini keadaan yang paling dikutuk oleh buku ini.

Al Ghazali mengajarkan bagaimana meraih pengetahuan sebagai perjalanan panjang tak bertepi dalam keseluruhan kehidupan itu sendiri, hingga maut menjemputnya itulah salah satu kesan yang dapat penulis tangkap setelah membaca buku agar tak salah jalan.

Buku yang tak terlalu tebal ini, boleh dibilang peta bagi pemikiran Al Ghazali, di mana dia merangkum semua gejolak pemikiran yang ada pada masanya. Sembari memberikan poin-poin yang perlu dikritik dan yang perlu diterima dari pemikiran tersebut.

Lalu setelah itu, dia mengajukan jalan alternatif yang paling kokoh untuk dilalui bagi para pecinta kebenaran. Jadi Al Munqid adalah petunjuk arah menuju Ihya Ulumuddin, Tahafut Al Falasifah, Minhajul Abidin dan kaya besar beliau lainnya.

Karena itu, berhenti di buku ini saja sama sekali tidak utuh untuk mempelajari pemikiran Al Ghazali. Misalny saja, kritik Al Ghazali pada para filosof hanya dimuat tiga yang pokok dibuku ini, sementara di Tahafut At Tahafut ada 20 poin. Jadi, siapkanlah waktu dan energi lebih untuk berpetuang lebih jauh.

Kemudian, yang menarik lainnya bagi kalangan muda adalah cara Al Ghazali menulis buku ini yang dimulai dari menceritakan pengalaman keraguannya. Mengapa dia merasa perlu menceritakan peristiwa keraguan itu? Apa istimewanya?

Barangkali dia ingin menegaskan bahwa sebaik-baik pencarian pengetahuan adalah diawali dari keraguan. Keraguan adalah papan tolakan terbaik untuk menembus pengetahuan lebih jauh, tetapi ia adalah rumah yang harus segera ditinggalkan karena sejatinya keraguan adalah kerapuhan.

Meragu demi kepastian, batas paling jelas bagi kepastian adalah keraguan. Jadi keraguan memberi pembanding bahwa kita sudah mencapai kepastian dan meninggalkan keraguan.

Dan hal inilah yang membuat salah satu tokoh pemikir Barat modern, Rene Descartes, sangat terpengaruh pada karya Al Ghazali, bahkan menjadikan keraguan (skeptis) sebagai satu pola yang wajib dilakukan dalam pemurnian pengetahuan.

Ini suatu peristiwa yang positif, cuma sayangnya tercederai oleh unsur ketidak jujuran Descartes untuk mengakui bahwa inspirasi pemikirannya adalah Al Ghazali.

Melalui keraguan inilah, Al Ghazali ingin membersihkan segala hal-hal yang dia anggap taqlid semata dan berupaya menuju pengetahuan puncak.

Proses keraguan ini, secara metodis digambarkan dengan baik oleh Descartes, yaitu dengan menganalogikan segala pengetahuan manusia dengan sekerangjang buah apel.

Untuk memastikan bahwa di keranjang itu hanya tersisa apel yang baik-baik, maka kita perlu mengeluarkan semua apel tersebut lalu memeriksanya satu-persatu.

Baru setelah itu, kita yakin bahwa semua apel di keranjang itu tidak ada lagi yang busuk. Begitu juga segala pengetahuan yang kita terima sejak kecil, di masyarakat, di sekolah, di kampus bahkan di masjid-masjid, layak kita periksa dengan mula-mula meragukannya.

Menempatkan pengetahuan itu dalam suatu irama dialektis, sehingga sampai pada yang tangguh. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/sejarah/2571567759/autobiografi-al-munqidz-min-al-dhalal-rekaman-perjalanan-dan-pergulatan-intelektual-al-ghazali

Rekomendasi