Retoria.id – Gottlob Frege (1848–1925) dikenal sebagai salah satu pendiri utama logika simbolik modern sekaligus filsafat analitik.
Ia memulai kariernya sebagai matematikawan dan kemudian berkesimpulan bahwa matematika sebetulnya dapat diturunkan dari logika murni.
Untuk membuktikan hal tersebut, ia merancang sebuah bahasa simbolik formal yang mampu mengekspresikan struktur logis pemikiran secara presisi.
Frege lahir di Wismar, sebuah kota pelabuhan di Jerman Timur, dekat Hamburg. Ayahnya adalah kepala sekolah yang inovatif dan pernah menulis buku tata bahasa Jerman untuk remaja—buku inilah yang memicu minat Frege terhadap struktur bahasa dan logika sejak dini.
Baca Juga: Bertrand Russell: Pelopor Logika Modern dan Ikon Pemikiran Abad ke-20
Ia menempuh pendidikan matematika dan fisika di Universitas Jena, lalu melanjutkan studi ke Universitas Göttingen, yang saat itu merupakan pusat studi matematika terkemuka.
Pada tahun 1873, Frege meraih gelar doktor dalam bidang geometri. Namun, fokusnya segera bergeser dari matematika ke logika.
Begriffsschrift Sebagai Bahasa untuk Pemikiran Murni
Karya monumentalnya, Begriffsschrift (1879)—yang dapat diterjemahkan sebagai “Tulisan Konsep” atau “Sistem Notasi Konseptual” —menjadi tonggak kelahiran logika modern.
Dalam buku ini, Frege memperkenalkan bahasa formal yang menyerupai kalkulus, yang dirancang untuk menangani penalaran logis secara sistematis.
Baca Juga: William of Ockham: Biarawan dan Filosof Penggagas Ockham’s Razor yang Revolusioner
Masalah yang coba ia pecahkan adalah meskipun logika tradisional telah mengenal konektor seperti dan, atau, dan jika… maka, belum ada sistem yang dapat merepresentasikan proposisi dengan kuantor seperti “semua” dan “sebagian”.
Contohnya, kalimat seperti “Sebagian wanita mampu mengatasi setiap rintangan” atau “Beberapa rintangan dapat diatasi oleh setiap wanita” belum bisa diformulasikan secara logis dalam sistem lama.
Frege menjawab tantangan ini dengan menciptakan sistem logika simbolik baru yang mampu menangani proposisi kompleks semacam itu.
Sistem ini menjadi dasar bagi seluruh perkembangan logika abad ke-20, dan hampir semua logikawan setelahnya—termasuk Bertrand Russell—meneruskan pengaruh pemikirannya.
Dari Logika ke Dasar-Dasar Aritmetika
Frege tidak berhenti di situ. Ia ingin menunjukkan bahwa seluruh matematika dapat diturunkan dari prinsip-prinsip logika.
Gagasannya ini ia kembangkan lebih lanjut dalam karya The Foundations of Arithmetic (1884), di mana ia mencoba menjelaskan hubungan antara logika dan aritmetika dalam bahasa non-simbolik.
Namun proyek ambisiusnya mencapai puncak dalam karya dua jilidnya, Grundgesetze der Arithmetik (Hukum-Hukum Dasar Aritmetika, 1893–1903).
Di mana ia membangun sistem aritmetika berdasarkan aksioma logika simbolik yang ia kembangkan dari Begriffsschrift. Inilah landasan utama yang kelak menjadi basis filsafat matematika modern.
Sisi Gelap Frege: Antisemitisme dan Kekaguman pada Hitler
Terlepas dari pencapaian intelektualnya, Frege memiliki sisi gelap yang sulit diabaikan. Dalam catatan pribadinya, ia mengungkapkan kebencian terhadap Katolik, Prancis, sosialis, dan Yahudi.
Ia bahkan menyatakan dukungannya terhadap pengusiran semua orang Yahudi dari Jerman, dan menyebut Adolf Hitler sebagai pahlawan.
Pernyataan-pernyataan ini menimbulkan pertanyaan moral: Haruskah karya ilmiah dinilai terpisah dari pandangan pribadi penciptanya?
Ini menjadi refleksi penting tentang hubungan antara kecemerlangan intelektual dan integritas etika. Frege adalah contoh tragis bahwa kejernihan logika tak selalu sejalan dengan kejernihan hati nurani.
Frege meninggal dunia pada tahun 1925, meninggalkan warisan intelektual yang sangat besar—namun juga kontroversi yang terus mengundang perdebatan. (*)