Retoria.id – Akibat sistem otomatis milik Meta, banyak pengguna Instagram dan Facebook diblokir secara tidak adil.
Pemblokiran ini membuat orang kehilangan akses ke foto, kenangan, dan sumber penghasilan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.
Beberapa kehilangan klien, sementara yang lain harus merelakan momen-momen paling berharga dalam hidup mereka yang kini hilang selamanya.
Yang paling memprihatinkan, orang-orang yang tidak bersalah hidup dalam ketakutan akan kemungkinan penyelidikan polisi, hingga mengalami tekanan psikologis.
Contohnya, Yasmine dari Belanda telah menjalankan bisnis keluarga melalui Instagram selama lima tahun. Namun, tiba-tiba akunnya ditutup, dan ia kehilangan lebih dari 5.000 klien.
Di Texas, Lusia diblokir selama dua minggu tanpa alasan jelas, hanya karena sistem menganggapnya “melanggar aturan”.
Baca Juga: Bitcoin Sempat Tembus Rp1,93 Miliar per Koin, Lalu Terjun usai Inflasi AS Menghantam Pasar
Seorang mantan guru asal Inggris, Ryan, juga beberapa kali mengalami pemblokiran tanpa alasan. Bahkan Instagram sendiri sempat mengakui adanya kesalahan dan menyatakan bahwa “Anda tidak melanggar aturan apa pun.”
Meski begitu, akunnya kembali ditutup dan hingga kini belum bisa dipulihkan. Ryan merasa terasing dari masyarakat dan khawatir dianggap seperti seorang kriminal.
Para pakar menyebut Meta terlalu mengandalkan kecerdasan buatan dan mengabaikan faktor manusia. Karena itulah, kesalahan blokir terus terjadi.
Akibatnya, banyak orang biasa yang tak bersalah menjadi korban, seolah-olah mereka pelaku kejahatan—padahal sama sekali tidak. (*)