Retoria.id – Hipermarket modern tidak hanya menjual barang, tetapi juga merancang pengalaman belanja yang diam-diam mendorong kita membeli lebih banyak.
Strategi ini dipakai di berbagai belahan dunia, mulai dari Walmart di Amerika Serikat hingga jaringan hipermarket besar di Indonesia seperti Hypermart, Transmart, Lotte Mart, dan Superindo.
Baca Juga: Trump Luncurkan ‘Kartu Emas’ Seharga 1 Juta Dolar, Bisa Percepat Hak Residensi di AS
Bayangkan jika suatu hari berdiri sebuah “Retoria Market.” Prinsip logika dan prilaku ekonomi akan diterapkan sepenuhnya agar pelanggan betah dan keranjang belanja mereka selalu penuh.
Berikut beberapa trik yang biasanya digunakan hipermarket besar:
1. Produk Susu di bagian paling akhir
saya akan meletakkan telur dan produk susu di titik terjauh dari pintu masuk. Produk-produk ini adalah barang terlaris di toko swalayan. Misalnya, ketika Anda datang untuk membeli susu, Anda harus berjalan lebih jauh dan melewati makanan lain.
Dengan cara ini, Anda akan melihat lebih banyak barang dan lebih mungkin untuk membeli. Ketika seorang pelanggan datang ke toko untuk membeli produk susu, jika kita meletakkan produk-produk ini di ujung toko, mereka akan berjalan lebih jauh dan kemungkinan membeli produk lain akan meningkat; alih-alih hanya datang, mengambil susu di pintu masuk dan pergi.
2. Ramah Anak
Saya merancang lingkungannya agar anak-anak senang. Mengapa? Karena penelitian menunjukkan bahwa kita membeli 29 persen lebih banyak saat membawa anak-anak dibandingkan saat sendirian. Jadi, saya pastikan lain kali ada yang bilang ingin pergi ke Pasar Ecotopia, anak-anak mereka juga akan mengajak kita!
3. Arsitektur dalam Ekonomi Perilaku
Di area dengan barang-barang yang lebih mahal dan menguntungkan, saya akan memilih ubin lantai yang lebih kecil. Ubin yang lebih kecil membuat roda kereta belanja berbunyi lebih keras dan bergetar lebih kuat.
Hal ini secara tidak sadar memperlambat pelanggan. Ketika Anda berjalan lebih lambat, Anda melihat barang-barang dengan lebih cermat dan lebih mungkin untuk melakukan pembelian.
4. Peran lorong dalam ekonomi perilaku
Berdasarkan ekonomi perilaku , saya merancang lorong toko dan antrean kasir agar sempit, sehingga dua keranjang belanja hampir tidak bisa saling berpapasan.
Mengapa? Karena dua alasan: Pertama, jika pelanggan mengambil barang berlebih, akan sulit bagi mereka untuk mengembalikannya. Kedua, ketika toko terlihat ramai dan penuh sesak dari luar, orang lain akan terdorong untuk datang dan berbelanja.
5. Keranjang Besar
Saya dulu memilih keranjang belanja yang terlalu besar. Penelitian menunjukkan bahwa ketika ukuran keranjang digandakan, jumlah pembelian meningkat empat puluh persen. Ketika keranjangnya kecil, volume pembelian lebih terlihat; tetapi dengan keranjang yang besar, pelanggan merasa masih ada ruang untuk membeli lebih banyak.
6. Saya memutar musik lembut di lingkungan yang tenang
Penelitian menunjukkan bahwa pelanggan menghabiskan lebih banyak waktu dan uang di toko dan bergerak lebih lambat ketika mendengarkan musik lembut dan menyenangkan. Ini berarti berbelanja lebih menyenangkan bagi mereka, dan karena mereka tinggal lebih lama di toko, mereka cenderung melakukan pembelian.
7. Permainan mental dengan harga
Dulu saya suka bermain-main dengan harga; misalnya, alih-alih 2 juta rupiah, saya akan menulis harganya menjadi 1.990.000 rupiah. Dengan cara ini, pelanggan merasa ia membeli barang dengan harga lebih murah dan menguntungkannya. Metode ini (disebut efek digit kiri) meningkatkan pembelian.
8. Rak di sebelah kasir:
Saya akan meletakkan makanan dan barang-barang yang paling lezat dan berkesan di sebelah kasir, tempat pelanggan selesai berbelanja. Ada dua skenario:
Kalau dia sudah beli banyak, dia bilang ke dirinya sendiri: “Aku beli banyak banget, nggak apa-apa aku ambil ini juga.” Kalau yang dibelinya sedikit, pikirnya: “Saya sudah hati-hati, tidak jadi beli apa-apa, sekarang saya ambil yang ini saja, tidak apa-apa.” (*)