Retoria.id – Jarang ada ulama Muslim yang namanya begitu sering disebut lintas disiplin sebagaimana Jalal al-Din al-Suyuti (1445–1505 M). Ia adalah polymath sejati, menguasai tafsir, hadis, fiqh, bahasa, hingga sejarah.
Lebih dari 500 karya disusun sepanjang hidupnya, menjadikannya sosok yang mewakili puncak tradisi ensiklopedis Islam menjelang akhir abad pertengahan.
Namun, di balik keluasan ilmunya, ada satu sikap intelektual yang kerap menimbulkan kontroversi yakni penolakannya yang keras terhadap logika Aristoteles atau mantiq. Bagi al-Suyuti, mantiq bukanlah instrumen netral untuk berpikir lurus, melainkan ilmu tercela yang membahayakan iman.
Ia tidak hanya bersuara lantang, melainkan menulis serangkaian karya khusus untuk membongkar, mengutuk, bahkan melarang penggunaannya. Dengan gaya retorika yang tajam, ia menyebut logika Yunani sebagai jalan menuju filsafat yang menyesatkan, zindiq, dan tanpa manfaat—baik duniawi maupun ukhrawi.
Biografi Jalal al-Din al-Suyuti
Al-Suyuti lahir di Kairo pada 1445 M (849 H) dalam sebuah keluarga yang saleh dan berpendidikan. Sejak muda, ia menunjukkan kecerdasan luar biasa. Dalam usianya yang masih belasan tahun, ia sudah menguasai Al-Qur’an, hadis, dan berbagai cabang ilmu agama.
Baca Juga: Ibn Taimiyah dan Kritiknya terhadap Logika Aristoteles Dalam Kitab al-Radd ‘Ala al-Mantiqiyyin
Seiring waktu, ia menjelma menjadi ulama produktif dengan reputasi global. Karyanya meliputi tafsir monumental al-Durr al-Manthur, ensiklopedia hadis al-Jami‘ al-Saghir, hingga karya linguistik seperti al-Muzhir.
Namun, seperti banyak sarjana besar, al-Suyuti juga hidup dalam pusaran kontroversi. Ia kerap berselisih dengan ulama sezamannya, baik dalam masalah otoritas keilmuan maupun metodologi. Salah satu medan perselisihan yang paling menonjol adalah soal status logika Aristoteles dalam tradisi Islam.
Sejak abad ke-10, logika Aristoteles (mantiq) telah menjadi bagian penting dari kurikulum filsafat dan teologi Islam. Banyak ulama besar, termasuk al-Ghazali, menganggap mantiq sebagai instrumen penting untuk memastikan ketepatan berpikir.
Namun, ada pula yang melihatnya sebagai penyusupan ide-ide asing yang berpotensi merusak kesucian akidah Islam. Di sinilah al-Suyuti berdiri sebagai penentang keras.
Ia menulis tidak kurang dari empat karya yang menolak logika, yaitu:
Karya-karya ini bukan sekadar catatan pinggir, melainkan argumen sistematis untuk membuktikan bahwa logika tidak hanya tidak perlu, tetapi juga haram dipelajari.
Mewarisi dan Meringkas Ibn Taimiyah
Dalam serangan-serangannya, al-Suyuti banyak merujuk pada karya Ibn Taimiyah (1263–1328 M), ulama Hanbali yang lebih dulu menggugat logika Aristoteles. Ibn Taimiyah dalam al-Radd ‘ala al-Mantiqiyyin mengkritik bahwa silogisme—jantung logika Aristoteles—rapuh dan lebih jauh dari kenyataan dibandingkan analogi atau qiyas fiqh.
Al-Suyuti menemukan argumen ini menarik dan memperluasnya. Ia bahkan menulis ringkasan dari karya Ibn Taimiyah dengan judul Juhd al-Qariha fi Tajrid al-Nasiha.
Dalam kata pengantarnya, al-Suyuti mengakui bagaimana ia mencari naskah Ibn Taimiyah, membacanya, lalu menyusunnya kembali dengan gaya lebih ringkas agar mudah dipahami. Dengan begitu, al-Suyuti bukan hanya pengikut, tetapi juga penerus intelektual dari tradisi kritik anti-logika.
Jika Ibn Taimiyah masih berargumen dengan analisis panjang, al-Suyuti kerap menulis dengan bahasa vulgar, bahkan provokatif. Dalam al-Qawl al-Mushriq, ia menegaskan:
“Mantiq adalah ilmu buruk dan tercela. Haram mempelajarinya. Ia membawa pada filsafat dan zindiq, tidak membuahkan hasil religius maupun duniawi. Hal ini telah ditegaskan oleh para imam agama, mulai dari al-Syafi‘i, al-Juwayni, hingga al-Ghazali pada akhir hidupnya.”
Pernyataan ini jelas garang. Ia tidak hanya menolak logika, tetapi juga menyematkan label moral dan teologis bagi siapa saja yang menekuninya. Menurut al-Suyuti, logika adalah pintu masuk kesesatan, dan karenanya harus ditutup rapat-rapat.
Namun, sikap keras al-Suyuti tidak lepas dari kritik. Sebagian ulama menilai ia terlalu gegabah. Ibn Salah, misalnya, pernah menyebut bahwa al-Suyuti belum layak disebut mujtahid karena tidak menguasai mantiq.
Ironisnya, al-Suyuti justru membalik tuduhan itu dengan menulis Shawn al-Mantiq wa al-Kalam, sebagai bantahan. Ia menegaskan bahwa penguasaannya atas ushul fiqh dan teori-teori turunan sudah lebih dari cukup, tanpa perlu logika Yunani. Bahkan, ia mengklaim ulama mantiq pada zamannya pun masih merujuk pada kaidah-kaidah yang ia hasilkan.
Apa yang membuat al-Suyuti begitu keras? Salah satunya adalah cara ia memandang logika. Ia menyebut mantiq sebagai “ilmu orang-orang Yunani”, identik dengan Aristoteles, yang tidak punya akar dalam tradisi Islam. Baginya, mempelajari logika berarti mengadopsi pola pikir orang kafir yang justru bisa menjauhkan dari kebenaran wahyu.
Lebih jauh, al-Suyuti menyebut bahwa ilmu ini tidak berguna. Tidak hanya gagal memberi manfaat spiritual, tetapi juga tidak bermanfaat secara praktis dalam urusan dunia. Dengan demikian, ia berbeda tajam dengan al-Ghazali, yang melihat logika sebagai alat bantu penting dalam fiqh dan teologi.
Warisan Ambivalen
Sejarawan modern, seperti Goldziher, menyebut al-Suyuti sebagai sarjana Sunni terakhir yang secara terbuka menolak logika. Setelahnya, mayoritas ulama Islam cenderung menerima mantiq sebagai instrumen keilmuan. Namun, jejak kontroversial al-Suyuti tetap penting, karena memperlihatkan dinamika kritis dalam tradisi Islam.
Di satu sisi, ia adalah polymath produktif, penulis ratusan karya, rujukan sepanjang masa. Di sisi lain, ia adalah pengkritik keras logika, menutup pintu bagi disiplin yang justru kelak menjadi fondasi metodologi ilmiah di Barat modern.
Sikap al-Suyuti memperlihatkan ketegangan abadi antara teks dan rasio, antara wahyu dan filsafat. Dalam dirinya, kita melihat bagaimana seorang ulama besar bisa sekaligus menjadi puncak ensiklopedisme Islam dan simbol resistensi terhadap rasionalitas Yunani.
Pertanyaan yang tersisa untuk kita hari ini adalah: apakah penolakan al-Suyuti merupakan bentuk kehati-hatian teologis untuk menjaga iman, atau justru sebuah kehilangan kesempatan bagi tradisi Islam untuk mengintegrasikan logika lebih dalam ke dalam keilmuan?
Apa pun jawabannya, al-Suyuti tetap berdiri sebagai figur monumental—seorang ulama besar yang dengan lantang menyebut logika sebagai ilmu tercela, dan menolak memberi tempat bagi rasionalitas Aristoteles dalam tubuh peradaban Islam. (*)