Retoria.id – Perbandingan antara karya Nikolai Bukharin Soviets or Parliament (1919) dan Tan Malaka Parlemen atau Soviet? (1921) segera memperlihatkan kemiripan mencolok yaitu judul dan struktur konseptualnya begitu identik.
Bukharin menulis Soviets or Parliament dengan menekankan pertanyaan biner tentang bentuk kekuasaan proletariat versus demokrasi borjuis. Dua tahun kemudian, Tan Malaka menulis Parlemen atau Soviet? dengan konstruksi yang sama persis, hanya berbeda bahasa.
Karya Bukharin telah lebih dulu terbit dan beredar luas di Eropa Barat, terutama dalam edisi bahasa Inggris yang dicetak di London tahun 1919 oleh Workers’ Socialist Federation.
Tan Malaka sendiri tinggal di Belanda hingga tahun yang sama, saat literatur Komintern seperti tulisan Bukharin menjadi bacaan utama kaum sosialis muda. Jadi, secara kronologis, hampir mustahil Tan Malaka tidak mengenal teks Bukharin tersebut.
Baca Juga: Kemunafikan Tan Malaka: Di Hadapan Allah Saya Muslim Di Hadapan Manusia Saya Bukan Muslim
Di bawah Ini adalah beberapa kemiripan lainnya yang tak kalah mencolok yang sudah dikemas secara sederhana:
1. Persamaan Isi dan Argumen
Bukharin menulis, “The fundamental difference between the parliamentary system and the Soviet power is already known… The Soviets grant no political rights to the non-producing classes.” Artinya: Perbedaan fundamental antara sistem parlementer dan kekuasaan soviet sudah diketahui: soviet tidak memberikan hak-hak politik kepada kelas yang tidak memproduksi.
Ia menegaskan bahwa kekuasaan soviet menyingkirkan kelas kapitalis, sementara parlemen menjadi wadah dominasi kaum borjuis.
“All the people apparently participate in the elections, but under this pretence is hidden the domination of capitalism.” Semua orang tampak ikut serta dalam pemilu, tetapi di balik pura-pura ini tersembunyi dominasi kapitalisme.
Dua tahun kemudian, Tan Malaka menggemakan gagasan serupa ketika menyebut parlemen Jerman sebagai “perkakas saja” pemerintah karena hak-hak seperti inisiatif dan interpelasi tak pernah dijalankan efektif. Ia menulis retoris:
“Apakah gunanya hak Initiatief semacam itu?” (Tan Malaka, 1921/1987, p. 25). Struktur argumentasi keduanya identik yakni hak pilih universal hanyalah ilusi, sebab kekuasaan tetap berada di tangan kelas berkuasa.
2. Soviet sebagai Bentuk Negara Proletar
Bukharin menyatakan: “The Russian Revolution shows us the precise form of that dictatorship. It is the Republic of the Soviets.” Artinya: Revolusi Rusia menunjukkan bentuk pasti dari kediktatoran proletar: Republik Soviet.
Tan Malaka pun menutup bukunya dengan kesimpulan senada, bahwa soviet adalah bentuk politik paling otentik bagi perjuangan kelas pekerja. Alih-alih mengembangkan kerangka baru, Tan Malaka tampak hanya mengulang tesis Bukharin dengan sedikit variasi naratif dan pedagogis.
3. Jejak Kronologis: Dari London ke Semarang
Secara historis, Soviets or Parliament terbit di London pada 1919. Tan Malaka menulis Parlemen atau Soviet? di Semarang pada Oktober 1921, setelah kembali dari Belanda (1919) dan aktif di kalangan sosialis muda. Rentang dua tahun ini memberi peluang besar bagi transfer ide langsung dari karya Bukharin ke Tan Malaka.
Selain kesamaan isi, judul Tan Malaka dengan dikotomi “Parlemen atau Soviet?” hampir identik dengan Bukharin, hanya membalik urutannya. Secara diakronis, ini menunjukkan kesinambungan ide, bukan kebetulan linguistik.
4. Kritik yang Sama terhadap Demokrasi Parlementer
Bukharin menulis: “Under the parliamentary system each citizen casts his vote into the ballot box once in four or five years… to manage everything without any reference to the toiling masses.” Artinya: Di bawah sistem parlementer, setiap warga hanya memilih sekali dalam empat atau lima tahun, lalu pemerintah mengatur segalanya tanpa merujuk pada kaum pekerja.
Tan Malaka menegaskan hal senada melalui contoh konkret: parlemen Jerman hanya “perkakas pemerintah dan kaisarnya.” Kedua teks menyoroti demokrasi parlementer sebagai sesuatu yang semu dan memberi kesan partisipasi, tetapi menyingkirkan massa pekerja dari kekuasaan riil.
5. Soviet sebagai Organisasi Massa
Bukharin menulis: “The Government of the Soviets is in constant relations with the organised masses.” Artinya: Pemerintahan Soviet selalu berhubungan dengan massa terorganisir. Tan Malaka menyebut soviet sebagai “buah sengsara dan azab manusia berpuluh beratus tahun.” Dengan gaya lebih puitis, ia mengulang tesis Bukharin bahwa soviet adalah hasil langsung perjuangan historis kelas pekerja.
Bukharin menyebut serikat industri sebagai “wheels of the governmental mechanism.” Tan Malaka, tanpa menambah kerangka baru, mengarahkan tulisannya pada fungsi serupa yaitu soviet sebagai instrumen perjuangan kelas.
6. Adaptasi Retoris dan Audiens
Perbedaan antara keduanya justru terletak pada gaya dan sasaran audiens. Bukharin menulis dalam konteks pasca-Revolusi Oktober, dengan bahasa propaganda yang lugas dan militan. “Experience shows that wherever the bourgeoisie enjoys political rights, it uses those rights to dupe the workers and peasants.” Artinya: Kaum borjuis menggunakan hak politik untuk menipu kaum buruh dan tani.
Tan Malaka, sebaliknya, menulis dengan gaya didaktis dan naratif. Ia memulai dengan sejarah parlemen dari Magna Charta (1215) hingga Habeas Corpus Act (1679). Pendekatan historis ini berfungsi mendidik pembaca Hindia Belanda yang belum akrab dengan sejarah politik Eropa. Namun, kerangka konseptual utamanya tetap menyalin Bukharin.
7. Konteks Kolonial dan Replikasi Ide
Bukharin menulis setelah pembubaran Majelis Konstituante oleh Bolshevik (1918). Ia menegaskan bahwa organisasi buruh dan tani telah berubah dari alat perlawanan menjadi organ pemerintahan.
Tan Malaka menulis dari Hindia Belanda, wilayah kolonial tanpa parlemen bagi bumiputra. Ia memakai contoh Inggris dan Jerman sebagai alat pendidikan, bukan pengalaman lokal. Meski konteksnya berbeda, kerangka oposisi biner “parlemen vs soviet” tetap diambil langsung dari Bukharin.
8. Bukti Gaya Retoris yang Paralel
Bukharin menyebut kelas kapitalis sebagai “the black army of capitalism.” Tan Malaka pun menggunakan gaya hiperbolik serupa saat menyebut parlemen Jerman “hanya permainan,” hak inisiatifnya “senjata tumpul.” Keduanya menggunakan retorika polemis untuk menggugat demokrasi borjuis. Perbedaan hanya terletak pada kemasan bahasa, Bukharin tajam dan ideologis, Tan Malaka puitis dan pedagogis.
9. Copying with Variation
Analisis tekstual menunjukkan bahwa Tan Malaka melakukan copying with variation dengan mengganti contoh (dari pemilu Rusia ke parlemen Jerman), menambahkan sejarah panjang, memakai diksi moralistik dan religius. Namun, struktur logis dan arah argumennya identik dengan Bukharin:
Tanpa atribusi eksplisit, tindakan ini memenuhi kriteria plagiarisme konseptual.
10. Implikasi Intelektual
Selama ini, Parlemen atau Soviet? dianggap karya asli yang menandai orientasi revolusioner Tan Malaka. Namun jika dibandingkan dengan Soviets or Parliament, kerangka teoritisnya jelas bersumber dari Bukharin.
Bukharin menulis: “The Russian Revolution shows us the precise form of that dictatorship—it is the Republic of the Soviets.” Tan Malaka mengulangnya dengan versi moralistik: “Manakah di antara pelita Barat yang dua itu… yang sempurna sinarnya untuk jalan kemerdekaan dan kemuliaan kita?”
Dengan demikian, nilai orisinalitas Tan Malaka patut ditinjau ulang. Ia bukan perumus teori baru, melainkan pengalih bahasa dan konteks bagi ide-ide Bolshevik.
11. Dari Plagiarisme ke Replikasi Komintern
Dalam tradisi Komintern, reproduksi ide antaranggota kerap dianggap wajar. Bukharin menulis atas mandat Komintern untuk menyebarkan model soviet ke seluruh dunia. Tan Malaka, yang aktif di Belanda dan Hindia Belanda, kemungkinan besar membaca karya Bukharin dan menyalinnya sebagai bahan pendidikan politik lokal.
Dalam kerangka akademik, tindakan ini tergolong plagiarisme. Namun dalam kerangka politik revolusioner internasional, mungkin dianggap replikasi ideologis yang sah.
12. Tan Malaka, Pengalih atau Penyalin?
Plagiarisme Tan Malaka terhadap Bukharin membuka ruang refleksi baru dalam historiografi intelektual Indonesia. Ia bukan pemikir yang orisinal dalam hal teori revolusi, melainkan pengalih gagasan internasional ke konteks kolonial.
Kemampuannya bukan pada mencipta ide baru, tetapi mengadaptasi retorika Eropa menjadi bahasa perlawanan Asia. Meski secara akademik tergolong plagiarisme, dalam praksis politik kolonial tindakan itu mungkin justru strategis dengan menjembatani wacana Komintern bagi rakyat terjajah. (*)
Sumber: https://www.retoria.id/sejarah/2571685478/jejak-plagiarisme-tan-malaka-di-balik-parlemen-atau-soviet