Interpretasi Komunis Tan Malaka atas Sejarah Islam di Indonesia

Retoria.id – Sekarang kita beralih ke buku Tan Malaka selain “Madilog”, yang berjudul “Aksi Massa” (1926). Di buku “Aksi Massa” ini, saya menemukan bagaimana Tan Malaka memahami fenomena sejarah Islam di Indonesia dengan menggunakan framework Marxist-Komunis.

Pertama, dalam Bab II “Ikhtisar Tentang Riwayat Indonesia” (hal. 18), Tan Malaka bilang begini:
“Agama Hindu, Budha dan Islam adalah barang-barang impor, bukan keluaran negeri sendiri. Selain itu, cita-cita ini tak begitu subur tumbuhnya seperti ke-Kristen-an di Eropa Barat.

Mesin penggerak segenap pemasukan agama Hindu, Budha dan Islam sampai kepada masa kedatangan kapitalisme Belanda, serta semua perang saudara di waktu itu adalah berada di luar negeri. Indonesia adalah wayangnya senantiasa, dan luar negeri dalangnya.”

Di sini, Tan Malaka menggunakan framework sejarah. Islam yang datang ke Indonesia setelah Hindu dan Buddha adalah karena faktor politik internasional eksternal; bukan kehendak internal individu Muslim yang memilih Islam.

Kedua, di halaman 20, Tan Malaka bilang: “Dalam hal yang seperti itu, Islam pun datang dan akhirnya mengambil kedudukan Hindu dan Budha. Penduduk Jawa sekarang adalah ‘kristalisasi’ dari bermacam-macam agama ketuhanan dan agama dewa-dewa (animisme).

Ia bukan seorang animis, bukan seorang Hindu, bukan seorang Budha, bukan seorang Kristen dan bukan seorang Islam yang sejati. Indonesia menurut alam, tetapi Hindu-Arab dalam pikirannya.”

Di sini, Tan Malaka juga menggunakan framework sejarah. Islam datang ke Indonesia dengan menggantikan kedudukan Hindu dan Buddha. Maka, agama orang Jawa berevolusi dari Hindu, Budha, ke Islam. Agama mengalami evolusi historis-politis.

Baca Juga: Bukti dan Indikator Anti-Agama Tan Malaka Dalam Buku MADILOG

Ketiga, di halaman 22-23, Tan Malaka menulis: “Seorang keturunan Hindu bernama Malik Ibrahim pada tahun 1419, dengan membawa agama yang belum dikenal orang di Pulau Jawa, datang di Gresik yang ketika itu penduduknya kebanyakan orang asing. Dengan cepat ia memperoleh pengikut.

Jadi boleh dikatakan, dengan kedatangannya yang membawa agama Islam ketika itu, bumiputra bagaikan memperoleh ‘durian runtuh’, karena ketika itu sedang berapi-api pertentangan antara penduduk pesisir dengan ibukota. Keadaan bertambah kusut, dan pada akhirnya sampai ke puncaknya, yaitu penyerangan terhadap raja-raja yang dipimpin oleh seorang Tionghoa-Jawa, bernama Raden Patah.

Dengan perbuatannya, Raden Patah menghancurkan kerajaan yang ada. Hal itu menunjukkan lagi bahwa seorang asing, dengan membawa paham baru (agama Islam) dan untuk mempertahankan kedudukan saudagar-saudagar asing di pesisir itu, berhasil menjatuhkan kerajaan bangsawan setengah Hindu. Kerajaan Demak berdiri dengan kemashurannya!”

Di sini, Tan Malaka memahami Walisongo (Maulana Malik Ibrahim dan Raden Patah) dengan menggunakan kacamata materialisme historis ala Marxist-Komunis. Dengan agama baru (Islam), Walisongo memimpin perang bersama penduduk pesisir asing (kaum saudagar Arab di pesisir) melawan kerajaan yang dipimpin bangsawan setengah Hindu di ibukota. Cikal bakal kaum pemodal Arab di pesisir berperang melawan feodalisme ibukota.

Keempat, di halaman 25-26, Tan Malaka menulis: “Sekiranya Pulau Jawa mempunyai borjuasi nasional yang revolusioner, Diponegoro dalam perjuangannya melawan Mataram dan Kompeni pastilah berdiri di sisi borjuasi itu. Dengan begitu niscaya dapatlah tercipta suatu perbuatan yang mulia dan pasti.

Tetapi itu tak ada, borjuasi yang berbau keislaman dalam lapangan ekonomi dihancurkan oleh kapital Belanda sama sekali. Dalam kekecewaan yang hebat terhadap Mataram dan Kompeni, dapatlah ia mempersatukan diri di bawah pimpinan Kyai Mojo, seorang ahli agama Islam yang fanatik dan bersemboyan ‘Perang Sabilullah’, bukan kebangsaan.

Menarik satu kesimpulan terhadap pemberontakan Diponegoro bukanlah satu pekerjaan yang mudah. Karena hal ini sesungguhnya perjuangan kaum borjuasi Islam Jawa menentang kapital Barat yang disokong oleh satu kerajaan yang hampir tenggelam (Mataram).”

Di sini jelas-jelas Tan Malaka menggunakan framework Marxist-Komunis; ia menggunakan konsep “borjuasi” yang khas Marxist-Komunis untuk memahami Perang Diponegoro. Jika Perang Diponegoro dimenangkan oleh Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo, maka muncullah kelas borjuis Islam Jawa.

Seorang Marxist-Komunis yang kecanduan sungguh-sungguh sulit melepas dogmatisme Marxisme-Komunisme dalam hati dan pikirannya, seperti yang dicontohkan Tan Malaka! Tak ada dalam hati dan pikiran kaum Marxist-Komunis sedikitpun peran hidayah Allah dalam menggerakkan orang Hindu jadi Muslim! Yang menggerakkan orang jadi Muslim hanyalah politik ekonomi!. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/sejarah/2571688040/interpretasi-komunis-tan-malaka-atas-sejarah-islam-di-indonesia

Rekomendasi