Retoria.id – Ada nuansa hangat dan simbolik dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) VI Forum Lingkar Pena (FLP) yang digelar di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Jumat (17/10). Dua tokoh utama FLP, S. Gegge Mappangewa dan Habiburrahman El Shirazy, menampilkan sisi paling manusiawi dari dunia literasi yakni kepedulian, kesadaran sejarah, dan tanggung jawab kemanusiaan.
Ketua Umum FLP, S. Gegge Mappangewa, membuka pertemuan akbar ini dengan gurauan yang sarat makna. “Kalau dulu ada canda, FLP adalah ‘Forum Lingkar Perempuan’, kali ini saya menambahkan bahwa FLP juga merupakan ‘Forum Lingkar Palestina’,” ujarnya, disambut tepuk tangan peserta.
Ia menegaskan, kepedulian terhadap Palestina bukanlah hal baru bagi organisasi para penulis ini. “Kita selalu identik dengan Palestina sejak awal berdiri. Kepedulian kita terhadap Palestina tidak berhenti di kepengurusan siapa pun,” tuturnya.
Gegge bahkan menyebut beberapa nama petinggi FLP yang pernah menjejakkan kaki di tanah suci itu. “(Yang sudah pernah ke sana) Ada Maimon Herawati, Rahmadiyanti Rusdi, Sinta Yudisia. Momentum ini menyentak kesadaran kita sebagai aktivis FLP selalu peduli kepada Palestina, sebagai bentuk kemanusiaan kita.”
Namun, dalam nada yang lebih reflektif, penulis asal Makassar ini mengingatkan bahwa kepedulian tidak boleh berhenti pada satu isu. “Kepedulian kita tidak hanya terbatas pada isu Palestina, melainkan juga pada problematika kemanusiaan lain di luar Palestina,” ujarnya.
Baca Juga: Logika Ngibul Guru Gembul: Mengatakan Takdir Adalah Melecehkan Tuhan
Jika Gegge memilih kata-kata untuk menyampaikan pesan, Habiburrahman El Shirazy penulis novel-novel best seller, Yang juga menjadi Ketua Dewan Pertimbangan FLP, memilih pakaian sebagai teksnya. Dalam sambutan yang tidak biasa, pengarang Ayat-Ayat Cinta itu meminta hadirin membaca simbol dari busananya mulai dari kopiah, batik, syal Palestina, dan sarung.
“Coba artikan secara semiotika, pakaian yang saya pakai hari ini dari atas sampai bawah. Inilah sambutan dari Ketua Dewan Pertimbangan Forum Lingkar Pena, cukup dengan pakaian yang Anda lihat,” katanya dengan senyum.
Kang Abik, sapaan akrabnya, kemudian menyinggung situasi terkini yang tengah ramai diperbincangkan yakni isu pesantren dan santri. “Kenapa saya pakai sarung? Karena pas dengan (isu) yang sedang panas di tanah air. Saya sebagai orang pesantren untuk menunjukkan, saya seorang santri,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejarah literasi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pesantren. “Kita tidak boleh melupakan sejarah literasi yang paling awal di masyarakat Indonesia adalah dari pesantren. Ketika sekolah Belanda tertutup untuk umum, para kiai membuka kelas-kelas, mengajarkan ilmu pengetahuan, agar rakyat Indonesia bisa belajar membaca dan menulis. Jadi, FLP juga bisa menjadi singkatan dari ‘Forum Lingkar Pesantren’,” ungkapnya.
Dalam semangat yang sama dengan tema Munas, “Literasi untuk Kemanusiaan,” Kang Abik menegaskan bahwa antara manusia, tauhid, dan literasi adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. “Beribadah dengan mengesampingkan kemanusiaan itu tidak ada. Tidak ada gunanya literasi kalau tidak untuk memanusiakan manusia.”
Ia menutup sambutannya dengan kutipan dari Al-Qur’an surah An-Naml ayat 30, tentang Nabi Sulaiman yang mengirimkan surat kepada Ratu Saba. “Dengan sebab secarik surat itulah, akhirnya negeri Saba berubah dari menyembah matahari menjadi menyembah Allah. Maka, jangan pernah remehkan tulisan,” pungkasnya.
Munas VI FLP yang berlangsung selama tiga hari, 17–19 Oktober 2025, selain menghadirkan suasana khidmat forum musyawarah kepengurusan, acara ini juga menghadirkan ruang refleksi literasi yang menyatukan pesantren, Palestina, dan kemanusiaan dalam satu garis perjuangan pena. Kegiatan ini juga diisi dengan seminar nasional “Literasi (untuk) Kemanusiaan dan Realitas Politik Global” serta berbagai lokakarya kepenulisan yang terbuka bagi publik. (*)