Retoria.id – Pasar Seni ITB 2025 kembali menghadirkan kejutan. Bukan hanya pameran karya kreatif dan pertunjukan seni, tetapi juga sebuah bentuk kritik sosial yang menggelitik nalar publik: dua profesor menjual “ijazah palsu” di tengah keramaian acara.
Stan bertajuk “Membukukan Pasar Seni. Menyenikan Pasar Buku” itu diinisiasi oleh Kelompok Keilmuan Literasi Budaya Visual (KKLBV) FSRD ITB. Program ini dirancang sebagai sindiran terhadap maraknya praktik jual-beli gelar akademik yang mencoreng dunia pendidikan dalam satu dekade terakhir.
Ketua KKLBV, Prof. Yasraf Amir Piliang, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan refleksi atas pudarnya kejujuran dan integritas di berbagai lapisan masyarakat.
“Dari pejabat sampai masyarakat umum, kita telah kehilangan kejujuran. Fenomena jual-beli gelar menunjukkan betapa nilai-nilai di balik ilmu telah tergantikan oleh gengsi dan simbol,” ujar Yasraf dalam keterangannya.
Dalam “ijazah” yang dijual, tertera nama universitas fiktif Institut Pasar Seni Indonesia, lengkap dengan tanda tangan Prof. Yasraf sebagai “Rektor” dan Prof. Acep Iwan Saidi sebagai “Dekan Fakultas Berlaku Sehari”.
Ijazah tersebut hanya berlaku selama satu hari, sebagai bentuk penghormatan kepada pengunjung Pasar Seni ITB yang ikut berpartisipasi.
Prof. Acep menambahkan, ijazah itu tidak bisa disebut palsu meski bukan dokumen resmi. “Kami tidak mendaftarkan ijazah ini ke KPU sebagai syarat jadi pejabat publik,” ujarnya sambil tersenyum. “Ini satir yang serius. Banyak pengunjung antre untuk mendapatkannya, dan itu tanda bahwa mereka paham pesan kami.”
Salah satu pengunjung, Iwan Pirous putra seniman besar A.D. Pirous, pendiri Pasar Seni ITB menilai bahwa karya tersebut memiliki kekuatan simbolik yang besar.
“Orang akan silau dengan ijazah, tak tahu apakah itu palsu atau asli. Tapi menurut saya, ijazah ini justru paling jujur, karena orang yang menandatanganinya sungguh ada,” katanya.
Antusiasme pengunjung semakin terasa ketika mereka diberi kesempatan berfoto mengenakan toga dan selempang bertuliskan “Doktor Sehari” atau “Profesor Sehari”.
Bahkan anak-anak ikut larut dalam suasana wisuda satir itu. “Belum sekolah sudah jadi doktor,” ujar salah satu orang tua sambil tertawa. “Semoga manifesting bisa sungguh-sungguh kuliah sampai doktor di ITB.”
Sementara seorang pengunjung lain berkelakar, “Kalau saya beli, bisa jadi presiden nggak?” menyindir fenomena gelar sebagai tiket kekuasaan.
Melalui cara unik ini, Pasar Seni ITB 2025 menjadi ruang ekspresi seni, dan juga panggung refleksi moral tentang banalitas gelar, komodifikasi pengetahuan, dan hilangnya makna kejujuran akademik. (*)