Retoria.id – Perpustakaan Aleksandria bukan sekadar sebuah bangunan. Ia adalah simbol pencarian manusia akan pengetahuan. Dari abad ke-3 SM hingga abad-abad awal Masehi, perpustakaan ini menjadi pusat intelektual paling gemilang di dunia semacam “Google” pada zaman kuno tempat ratusan ribu gulungan papirus yang memuat karya filsafat, sains, sejarah, dan sastra dikumpulkan.
Namun, keajaiban intelektual itu lenyap dalam kobaran api bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali. Lalu siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas kehancurannya? Pendapat para ahli berbeda-beda.
Perpustakaan ini didirikan sekitar tahun 295 SM oleh Ptolemaios I Soter atau penasihatnya, Demetrios dari Faleron, sebagai bagian dari Mouseion, “Kuil Para Muses.” Ia menjadi jantung Aleksandria Helenistik kota yang dibayangkan oleh Aleksander Agung dan dikembangkan oleh dinasti Ptolemaios menjadi simpul pertemuan pengetahuan dunia.
Baca Juga: Peradaban-peradaban Besar yang Hilang dalam Sejarah
Ptolemaios II Philadelphos, penerus Soter, melanjutkan proyek itu dengan semangat luar biasa: ia mengirim utusan ke seluruh wilayah Mediterania untuk membeli atau menyalin buku. Koleksinya mencakup karya Aristoteles, naskah asli Aiskhilos, Sofokles, dan Euripides, serta teks-teks dari Suriah, Persia, dan India.
Perpustakaan itu juga berfungsi sebagai universitas, menarik ilmuwan besar seperti Eratosthenes yang menghitung keliling bumi dan Archimedes. Pada tahun 48 SM, ketika terjadi perang saudara antara Cleopatra dan saudaranya, Ptolemaios XIV, Julius Caesar tiba di Aleksandria untuk mendukung Cleopatra.
Ketika pasukannya terancam terkepung di pelabuhan, Caesar memerintahkan pembakaran kapal-kapal Mesir untuk menghalangi armada lawan. Api itu menyebar tak terkendali ke gudang-gudang, dan menurut Plutarkhos sampai ke Perpustakaan. Sumber lain, seperti Seneca, menyebut sekitar 40.000 gulungan papirus hancur, meskipun tidak seluruh koleksi musnah.
Kemungkinan sebagian dari Perpustakaan masih bertahan dan kemudian direorganisasi di Serapeion, lembaga “saudara” dari Perpustakaan utama.
Baca Juga: Jejak Intelektual Ibn Hazm: Filsuf Andalusia Yang Menolak Qiyas
Di bawah kekuasaan Romawi, Aleksandria kehilangan kejayaannya. Bangsa Romawi tidak berinvestasi dalam pemeliharaan Mouseion, sementara kerusuhan sipil dan pengusiran cendekiawan asing terutama di bawah Ptolemaios VIII mempercepat kemunduran.
Sejarawan Roy MacLeod mencatat bahwa setelah abad ke-1 SM, “kita tahu sangat sedikit tentang Perpustakaan atau apa pun yang tersisa darinya.” Pengabaian terbukti sama merusaknya dengan api.
Pada tahun 391 M, ketika Kekristenan menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi, Kaisar Theodosius I dan Patriark Theophilos memerintahkan penghancuran “kuil-kuil penyembah berhala.” Serapeion, yang menampung para cendekiawan terakhir dari Perpustakaan lama, diratakan oleh massa fanatik.
Serangan ini dianggap oleh banyak sejarawan sebagai akhir mutlak dari Perpustakaan Aleksandria bersama dengan sisa-sisa terakhir pengetahuan Helenistik.
Bab terakhir dari tragedi ini dikisahkan terjadi pada tahun 642 M, ketika Amr ibn al-‘As, jenderal Khalifah Umar, menaklukkan Aleksandria. Menurut sumber-sumber abad pertengahan, Umar disebut memerintahkan penghancuran buku-buku itu karena dianggap “tidak berguna bagi Islam.”
Namun, sejarawan modern menilai kisah itu sebagai mitos. Narasi tersebut berasal dari sumber Kristen abad ke-13, berabad-abad setelah peristiwa itu. Sebaliknya, masa awal Islam justru merupakan masa kebangkitan intelektual, yang sangat menghormati filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani.
Tak seorang pun tahu kapan tepatnya naskah terakhir Perpustakaan Aleksandria hilang. Mungkin terbakar, dijarah, atau terlupakan. Tetapi kehilangannya melambangkan sesuatu yang lebih dalam: rapuhnya pengetahuan dan betapa mudahnya peradaban musnah bila tidak dijaga.
Sejarawan Roger Bagnall menulis, “Ini adalah kisah dengan banyak tersangka, tetapi tanpa pelaku yang pasti” sebuah misteri tanpa jawaban, namun dengan pelajaran abadi: pengetahuan, bila tidak dijaga, dapat lenyap seketika seperti api yang melahap Perpustakaan dua ribu tahun silam. (*)
Sumber: https://www.retoria.id/sejarah/2571740635/apa-yang-sebenarnya-terjadi-di-perpustakaan-alexandria