Retoria.id – Para ilmuwan dari Universitas Toronto menemukan bahwa gambar-gambar yang membutuhkan energi minimal untuk diproses oleh otak ternyata lebih disukai oleh manusia. Temuan ini dipublikasikan dalam edisi terbaru jurnal PNAS Nexus.
Menurut para peneliti, otak adalah salah satu organ yang paling banyak mengonsumsi energi dalam tubuh. Sekitar 20 persen dari total kalori yang masuk ke tubuh digunakan oleh otak, dan hampir setengah dari energi itu dihabiskan untuk mendukung kerja sistem penglihatan.
Sinyal visual yang sangat sederhana misalnya ruangan putih kosong, memang mudah dipahami, tetapi cepat membuat bosan. Sebaliknya, gambar yang terlalu kompleks menuntut banyak energi metabolik sehingga terasa melelahkan.
Baca Juga: Daftar Artikel Wikipedia Paling Banyak Dibaca Tahun 2025 Charlie Kirk Menempati Peringkat Teratas
Karena itu, para peneliti menduga bahwa preferensi estetika mungkin berkaitan dengan pencarian titik tengah yang ideal: tidak terlalu sederhana, tidak terlalu rumit, dan hemat energi untuk otak.
Untuk membuktikan dugaan ini, para ilmuwan menggunakan model komputer untuk menilai “biaya energi” dalam memproses 4.914 gambar. Hasil penilaian komputer itu kemudian dibandingkan dengan penilaian daya tarik visual dari 1.118 partisipan.
Setelah itu, peneliti memverifikasi tingkat “upaya metabolik” tersebut lewat pencitraan otak yang mengukur konsumsi oksigen pada empat relawan.
Dari kedua percobaan tersebut, hasilnya konsisten: gambar yang membutuhkan energi lebih sedikit untuk diproses otak dinilai lebih menyenangkan.
Respons cepat para partisipan juga memungkinkan peneliti melihat tahap awal kesan estetis, yaitu reaksi spontan sebelum seseorang sempat memikirkan isi gambar.
Para penulis studi menyimpulkan bahwa daya tarik visual bisa jadi merupakan bentuk tersembunyi dari strategi penghematan energi dalam cara otak bekerja. (*)
Sumber: https://www.retoria.id/sains/2572005364/apakah-keindahan-menghemat-energi-otak