Retoria.id – Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketika kita memiliki sesuatu, nilai benda tersebut di dalam pikiran kita menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan nilai sebenarnya.
Sebagai contoh, dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa pada sebuah pertandingan olahraga, orang-orang yang memiliki tiket menilai harga tiket mereka sebesar 10.400 rupiah, sementara dari sudut pandang orang lain, harga tiket tersebut hanya bernilai 170 rupiah.
Dalam penelitian lain juga ditemukan bahwa ketika seseorang berniat menjual mobil atau rumahnya, mereka menetapkan harga yang jauh lebih tinggi dari harga pasar.
Baca Juga: Mengenal Efek Streisand: Upaya Menutupi Informasi, Justru Semakin bikin Viral
Mengapa? Karena mereka teringat pada kenangan-kenangan yang mereka miliki bersama mobil atau rumah tersebut. Padahal, untuk melakukan transaksi yang tepat, cara berpikir seperti ini keliru, dan seharusnya nilai riil produk atau jasa ditawarkan kepada pembeli.
Sebab, orang lain tidak melihat transaksi dari sudut pandang kita. Misalnya, Anda mungkin merenovasi dapur rumah, menggunakan wallpaper tercantik untuk menghiasi dinding.
Ketika memutuskan menjual properti, karena biaya yang telah dikeluarkan dan keterikatan emosional yang Anda miliki, Anda menawarkan harga lebih tinggi dari nilai sebenarnya. Padahal, dari sudut pandang pembeli, fasilitas-fasilitas tersebut merupakan hal yang sangat biasa saja.
Baca Juga: Mengenal Efek Sopir: Ketika Ilmuwan dan Sopirnya Bertukar Tempat
Fenomena ini juga terlihat di pasar keuangan. Umumnya, orang-orang yang tidak memiliki Bitcoin menganggap mata uang kripto ini sebagai sesuatu yang tidak bernilai dan penuh gelembung.
Namun, orang yang sama ketika sudah membeli Bitcoin, perubahan besar terlihat dalam cara berpikir dan pembicaraan mereka. Mereka mulai membicarakan keunggulan Bitcoin dan masa depan mata uang kripto menjadi sangat penting bagi mereka.
Hal yang sama juga terjadi di pasar saham. Anda akan melihat bahwa tidak peduli saham itu untung atau rugi, setiap orang mempromosikan saham yang mereka miliki seolah-olah mereka telah membeli saham Microsoft atau Tesla.
Para pemegang saham memiliki rasa kepemilikan terhadap perusahaan tersebut, sehingga mereka tidak mampu mengenali gelembung pasar dengan tepat.
Agar tidak terjebak dalam masalah ini, Anda harus menyingkirkan asumsi kepemilikan sebelum mengambil keputusan. Karena jebakan ini membuat kita membayangkan nilai yang lebih tinggi dari nilai sebenarnya dan mengambil keputusan berdasarkan nilai subjektif, bukan nilai riil. (*)
Sumber: https://www.retoria.id/gaya-hidup/2572066819/efek-kepemilikan-mengapa-sulit-melepaskan-barang-lama