Ternyata Kecerdasan Buatan mengonsumsi lebih banyak air daripada manusia

 

Retoria.id – Perlombaan yang kian sengit di dunia teknologi menyebabkan penyusutan sumber daya alam secara drastis.

Hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Patterns menunjukkan bahwa sistem kecerdasan buatan (AI) saat ini bukan hanya mengancam ketersediaan energi, tetapi juga cadangan air bersih dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Konsumsi Energi: Melampaui Malaysia

Kebutuhan daya sistem kecerdasan buatan meningkat dari tahun ke tahun secara eksponensial.

Tahun 2024: 5,3–9,4 GW daya listrik
Akhir 2025: meningkat hingga 23 GW (setara 201,5 terawatt-jam per tahun)

Jika kecerdasan buatan dianggap sebagai sebuah negara, maka konsumsi energinya akan menempati peringkat ke-25 dunia, melampaui Malaysia yang berpenduduk 38 juta jiwa, dan berada sejajar dengan Mesir.

Baca Juga: ChatGPT ungkap kebenaran pahit: Jutaan Pengguna menderita gangguan mental dan mencoba bunuh diri

ChatGPT dan Satu “Cangkir Air”

Saat kita mengajukan pertanyaan sederhana kepada ChatGPT, jarang terpikir berapa banyak sumber daya yang bekerja di balik proses tersebut. Berdasarkan penelitian, air yang digunakan untuk satu sesi tanya-jawab setara dengan kebutuhan air minum harian satu orang.

Jutaan liter air dibutuhkan untuk mendinginkan server raksasa yang mengoperasikan kecerdasan buatan. Air tersebut menguap dalam sistem pendinginan, sehingga memicu krisis air di wilayah pertanian, industri, dan kawasan permukiman.

Saat ini, sistem AI secara keseluruhan “mengonsumsi” lebih banyak air dibandingkan air yang diminum umat manusia dari air minum kemasan.

Rahasia di Balik “Brankas Besi” Raksasa Teknologi

Perusahaan-perusahaan besar seperti Google dan Apple kerap menampilkan laporan lingkungan yang tampak ramah dan rapi, namun cenderung bungkam soal pompa air dan sistem penguapan di pusat data mereka.

Amazon, khususnya, menuai kritik karena dinilai menyembunyikan dampak konsumsi sumber daya dari pusat-pusat datanya.

Diperkirakan pada tahun 2028, Amerika Serikat saja akan menghadapi defisit listrik hingga 35 gigawatt, dengan tekanan terbesar berasal dari infrastruktur kecerdasan buatan.

Batas Fisik dan Masa Depan

Kurva pertumbuhan teknologi yang seolah tak terbatas kini mulai berbenturan dengan batas fisik alam. Cepat atau lambat, pemerintah daerah dan lembaga regulator akan terpaksa menolak pembangunan pusat data baru akibat keterbatasan energi dan air.

Pada akhirnya, nasib perlombaan kecerdasan buatan akan bergantung pada satu sumber daya paling mendasar: air.

Menurut Anda, apakah pengorbanan sumber daya alam sebesar ini layak demi kemajuan teknologi?

Sumber: https://www.retoria.id/sains/2572087269/ternyata-kecerdasan-buatan-mengonsumsi-lebih-banyak-air-daripada-manusia

Rekomendasi