Retoria.id – Di Jerman, muncul perdebatan yang tak terduga dengan nuansa politik seputar Piala Dunia 2026. Pemicunya adalah posisi Amerika Serikat terhadap Greenland serta sejumlah pernyataan yang disampaikan terkait isu tersebut.
Dalam konteks ini, bahkan muncul seruan untuk membuka diskusi terbuka mengenai kemungkinan boikot turnamen.
Inisiatif tersebut disuarakan oleh Presiden klub St. Pauli, yang juga merupakan anggota komite eksekutif Bundesliga dan Federasi Sepak Bola Jerman, Oke Göttlich.
Menurutnya, situasi saat ini memunculkan pertanyaan penting: apakah tepat bagi negara-negara Eropa untuk berpartisipasi dalam turnamen besar yang diselenggarakan di negara yang secara tidak langsung dan mungkin dalam waktu dekat juga secara langsung dapat menimbulkan ancaman bagi Eropa?
“Pertanyaan apakah orang-orang Eropa seharusnya berpartisipasi dalam kompetisi di negara yang secara tidak langsung, dan mungkin dalam waktu dekat juga secara langsung, mengancam Eropa, benar-benar relevan,” demikian pernyataan Göttlich dikutip.
Baca Juga: Toni Kroos menentang perluasan Piala Dunia 2026
Latar belakang munculnya diskusi ini adalah pernyataan yang dikabarkan pernah disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, terkait keinginannya untuk menempatkan sistem pertahanan rudal di Greenland wilayah otonom Denmark dengan cara menetapkan kendali Amerika Serikat atas wilayah tersebut.
Pernyataan-pernyataan ini membuat sebagian kalangan di Jerman semakin mempertajam pertanyaan: posisi apa yang harus diambil ketika olahraga bersinggungan dengan geopolitik?
Sebagai pengingat, Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen akan dimulai pada 11 Juni, dengan laga final digelar pada 19 Juli.
Untuk saat ini, belum ada keputusan resmi perdebatan ini masih sebatas pertukaran pandangan.
Namun, munculnya seruan semacam ini sudah menunjukkan satu hal: jalan menuju Piala Dunia 2026 tidak hanya akan dipenuhi persaingan di atas lapangan, tetapi juga pertanyaan-pertanyaan besar di luar lapangan. (*)